CONTOH PROPOSAL KTI LENGKAP

Kita sebagai pelajar pasti pernah atau akan melakukan penelitian terutama pada saat kuliah atau yang biasa disebut skripsi. Tentu saja dalam pembuatan skripsi atau karya tulis, kita harus mengajukan judul terhadap pembimbing terlebih dahulu dan membuat proposal yang akan direvisi dan mengesahkan penelitian kita untuk diteliti.
Berikut merupakan contoh proposal yang bisa anda jadikan sebagai referensi ..

SALEP TANAH LIAT KAOLIN (Caolinite clay) SEBAGAI  PENGHILANG BEKAS LUKA ( Vulnus )
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
OLEH:
NAMA   : 
NISN     : 
GURU PEMBIMBING: 1. 
2.  
 

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
MADRASAH ALIYAH NEGERI INSAN CENDIKIA OKI
TAHUN PELAJARAN 2019/2020



1.      LATAR BELAKANG
      Indonesia yang merupakan negara kepulauan terletak di garis khatulistiwa yang memberikan cuaca tropis memiliki 17.504 pulau yang berpenghuni maupun tidak. Indonesia terletak pada koordinat 6 derajat lintang utara dan 11 derajat lintang selatan, serta 95 derajat bujur timur sampai 141 derajat bujur timur yang mempunyai luas daratan seluas 1.922.570 KM. Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai sumber daya yang melimpah baik itu di bidang tambang, pertanian, dan lain-lain. (Wikipedia, 2019)
      Salah satu sumber daya yang melimpah di Indonesia, yakni tanah liat.
Tanah liat adalah partikel mineral berkerangka dasar silika yang berdiameter kurang dari 4 mikrometer. Tanah liat terbentuk dari proses pelapukan batuan silika oleh asam karbonat dan sebagian dihasilkan dari aktivitas panas bumi (Wikipedia,  2013), sedangkan menurut siregar (2010 : 15) mendefinisikan tanah liat sebagai campuran partikel-partikel pasir dan debu dengan bagian-bagian tanah liat yang mempunyai sifat-sifat karakteristik yang berlainan dalam ukuran yang kira-kira sama.
      Banyak orang yang mengira bahwa tanah liat hanya memiliki manfaat sebagai bahan dasar pembangunan, tapi nyatanya tanah liat mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia selain sebagai bahan dasar pembangunan. Manfaat tanah liat yang lain yakni dalam bidang kesehatan dan kecantikan karena tanah liat memiliki sekitar 67 kandungan mineral didalamnya seperti zat besi, zink, kalsium, potasium, magnesium, silika, mangan dan lain sebagainya. Menurut Jimmy Bonang (2015), tanah liat menurut manfaatnya dibagi menjadi 10, yakni :
a.       Sebagai lulur
      Dalam bidang kecantikan tanah liat berfungsi sebagai lulur atau masker tubuh, karena tanah liat memiliki zat yang mampu mengencangkan kulit, menghilangkan kotoran , mengencangkan pori-pori, membantu dalam pengelupasan sel-sel kulit mati dan mengurangi peradangan pada jerawat.
b.      Menjaga kesehatan pencernaan
      Tanah liat memiliki zat yang berbrntuk mirip dengan sponge yang mampu menyerap racun dalam tubuh. Senyawa racun yang dapat dibersihkan yakni aflatoxin yang dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.
      Tanah  liat yang dapat digunakan untuk pengobatan diare adalah tanah liat yang mengandung mineral kaolin, yaitu suatu masa batuan yang kemudian tersusun dari material lempung yang memiliki kandungan besi rendah dan biasanya berwarna keputih-putihan. Penelitian menunjukkan bahwa tanah liat dapat menyerap racun bakteri seperti parasit, acidosis, ion hydrogen, dan hormon steroid berlebihan dalam kehamilan.
c.       Mengobati Osteoporosis
      Kandungan kalsium dalam tanah liat yang tinggi dapat membantu para lansia dalam menjaga kesehatan tulang. Kalsium dapat menjaga kesehatan tulang sehingga apabila dikonsumsi dengan benar oleh para remaja atau dewasa dapat membantu memenuhi kebutuhan kalsium sehingga tidak mudah terkena osteoporosis pada usia lanjut.
d.      Anti kanker
      Sifat anti-karsigonetik yang terkandung pada tanah liat dapat membantu mencegah munculnya sel kanker dalam tubuh
e.       Fungsi detoksifikasi
      Tanah liat memiliki khasiat dalam detoksifikasi racun karena mengandung muatan listrik negatif alami yang mampu menarik racun muatan positif dari tubuh melalui usus.
f.       Memurnikan air
      Untuk memurnikan air, dibutuhkan tanah liat bentonit yang sangat membantu dalam mengurangi racun yang terdapat pada lingkungan. Tanah liat dicampur dengan magnesium klorida dapat membersihkan fluoride pada air minum, sehingga menjadikannya aman untuk dikonsumsi.
g.      Obat terapi
      Tanah liat dikenal memiliki fungsi yang baik untuk kesehatan, baik digunakan di luar maupun di dalam tubuh. Melakukan terapi dengan cara mengkonsumsi tanah liat dapat menyembuhkan dari penyakit Buruli Ulcer (mirip lepra) dan Tuberculosis mycobacterium. Untuk terapi luka luar dilakukan dengan cara mengoleskannya pada bagian yang sakit. Anda juga dapat menggunakan tanah liat untuk berendam. Beberapa manfaat terapi menggunakan tanah liat adalah untuk menyembuhkan masalah pada perut, diare, colitis, anemia, kecantikan, gondok, diare, hemoroid, anti parasit, menyembuhkan luka luar, jerawat, anti radiasi, membersihkan organ dalam (hati, ginjal, dan sebeagainya), serta membersihkan racun dari tubuh.
h.      Menghambat infeksi
      Penelitian menunjukkan bahwa tanah liat hijau Perancis efektif dalam menghambat Escherichia coli, Salmonella typhimurium, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aerus dan Mycobacterium marinum, bakteri pantogen yang dapat menyebabkan dampak serius dan sebagai obat tahan infeksi kulit.
i.        Menghilangkan rasa pahit pada sayur
      Di dalam masyarakat, beberapa orang memanfaatkan tanah liat sebagai penghilang rasa pahit pada daun pepaya selain menggunakan air garam ataupun daun jambu biji. Beberapa orang memanfaatkan daun pepaya sebagai jenis sayur maupun lalapan. Daun yang memiliki kegunaan untuk mengobati penyakit malaria ini memiliki kandungan  alkaloid yang berupa papain yang menyebabkan rasanya menjadi sangat pahit saat dikonsumsi.
j.        Penyembuhan luka
      Kandungan zink dan zat besi pada tanah liat dapat berfungsi dalam meringankan rasa sakit pada luka dan membantu dalam pemyembuhannya serta menyamarkan bekas luka.

      Tanah liat yang mampu dalam menyembuhkan beberapa penyakit ialah tanah liat kaolin. Tanah liat kaolin (Caolinite clay) adalah semacam tanah liat yang efektif untuk mengobati diare dan juga peradangan kulit tertentu. Kaolin merupakan suatu masa batuan yang kemudian tersusun atas material tanah liat yang mempunyai kandungan besi yang rendah dan umumnya berwarna putih atau agak keputihan.
      Penelitian yang hampir serupa juga pernah diteliti oleh Abang muhammad kurniawan dalam skripsinya dengan judul “UJI EFEK PENYEMBUHAN LUKA SAYAT SALEP EKSTRAK IKAN TOMAN (Channa micropeltes) SECARA TOPIKAL PADA TIKUS YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN”  .
      Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul SALEP TANAH LIAT KAOLIN (Caolinite clay) SEBAGAI PENGHILANG BEKAS LUKA ( Vulnus )”.

2.      RUMUSAN MASALAH
      Berdasarkan   uraian latar belakang di atas,  rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu “ Bagaimana pengaruh salep dari tanah liat kaolin (Caolinite clay)  dalam menghilangkan bekas luka (Vulnus)”.
3.      HIPOTESIS
      Dari penelitian ini, diharapkan bahwa salep tanah liat kaolin (Caolinite Clay) bisa menghilangkan atau mengurangi bekas luka.
4.      TUJUAN PENELITIAN
      Sesuai dengan rumusan masalah di atas, adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bahwa salep tanah liat kaolin bisa menyembuhkan dan menghilangkan bekas luka.
5.      MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan harapan sebagai berikut :
5.1.   Bagi Peneliti
     Manfaat yang dapat dirasakan oleh peneliti adalah bertambah wawasan mengenai bidang geologi dan kesehatan sehingga berguna bagi peneliti dan dapat mengaplikasikan penelitian ini dalam kehidupan sehari-hari.
5.2.    Bagi Masyarakat
     Manfaat penelitian ini bagi masyarakat, khusunya masyarakat yang ada di MAN IC OKI adalah dapat menjadi sebuah referensi dalam mengembangkan karya sains bagi pelajar di madrasah dan masyarakat umum.
5.3.   Bagi Almamater
     Manfaat penelitian ini bagi almamater adalah :
5.3.1.      Sebagai referensi bagi adik-adik kelas yang akan menghadapi pembuatan karya tulis ilmiah sebagai persyaratan mengikuti ujian nasional di tahun yang akan datang
5.3.2.      Sebagai awal mula penelitian tentang manfaat kandungan tanah liat kaolin untuk kesehatan.





















6.      TINJAUAN PUSTAKA
6.1.    Luka
     Menurut Endang Umirah (2015) Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera atau pembedahan. Sedangkan menurut Ekaputra (2013 : 2), luka merupakan suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan yang disebabkan oleh trauma, intentional/operasi, ischemia/vaskuler, tekanan dan keganasan.
     Menurut Perry (2010), Luka adalah rusaknya atau hilangnya kontinuitas jaringan yang dapat diakibatkan oleh faktor internal seperti obat-obatan, perubahan sirkulasi, perubahan proses metabolisme, infeksi, kegagalan transport oksigen dan juga oleh faktor eksternal seperti suhu yang ekstrim, cedera, alergi, radiasi dan zat-zat kimia.
     Jadi, kesimpulan yang bisa saya dapatkan dari pendapat 3 ahli tersebut ialah bahwa luka merupakan keadaan yang diman jaringan terluar kulit terganggu atau rusak yang disebabkan oleh berbagai macam hal, contohnya cedera, pembedahan, operasi, trauma, tekanan, suhu yang ekstrim, alergi, radiasi dan zat-zat kimia.  
6.1.1.      Jenis-Jenis Luka
    Jenis-jenis luka digolongkan menjadi beberapa golongan menurut Kozier, Barbara (1995) yakni :
6.1.1.1.                        Berdasarkan Sifat Kejadian
Berdasarkan sifat kejadian, luka dibagi menjadi 2 macam, yakni luka terbuka dan luka tertutup. Luka terbuka adalah keadaan dimana kulit atau selaput jaringan rusak, kerusakan terjadi karena kesengajaan maupun ketidaksengajaan. Sedangkan luka tertutup ialah suatu keadaan dimana jaringan yang berada pada permukaan tidak rusak.
6.1.1.2.                        Berdasarkan Penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya, luka dibagi menjadi 2 macam, yakni luka mekanik dan luka non mekanik. Luka mekanik adalah cara luka yang didapat dan luas dari kulit yang terkena, luka mekanik terbagi menjadi 9 macam, yakni luka insisi, luka bersih, luka memar, luka lecet, luka tusuk, luka gores, luka tembak, luka bakar dan luka gigitan. Sedangkan luka non mekanik adalah luka yang disebabkan karena zat kimia, termik, radiasi dan serangan listrik.
6.1.1.3.                        Berdasarkan Tingkat Kontaminasi
Berdasarkan tingkat kontaminasi, luka dibagi menjadi 4 macam, yakni luka bersih, luka bersih terkontaminasi, luka terkontaminasi dan luka kotor. Luka bersih yaitu luka bedah tak terinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan dan infeksi, luka bersih terkontaminasi yaitu luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan dan perkemihan dalam keadaan terkontol, luka terkontaminasi yaitu luka terbuka yang disebabkan akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dan luka kotor yaitu luka yang dimana didalamnya terdapat mikroorganiisme.
6.1.1.4.                        Berdasarkan Kedalaman dan Luasnya Luka
Berdasarkan tingkat kedalaman dan luasnya, luka dibagi menjadi 4 macam, yakni luka superfisial, luka ”partial thickness”, luka “full thickness” dan luka “full thickness”. Luka superfisial adalah luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit, luka ”partial thickness” yakni hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan atas dari dermis, luka “full thickness” yakni hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya dan luka “full thickness” yakni luka yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya dekstruksi atau kerusakan yang luas
6.1.1.5.                        Berdasarkan Waktu Penyembuhan Luka
Berdasarkan waktu penyembuhan, luka dibagi menjadi 2 macam yakni luka akut dan luka kronis. Luka akut adalah luka yang masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati dan luka kronis adalah luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan disebabkan karena faktor eksogen dan faktor endogen.

6.1.2.      Proses Penyembuhan Luka
    Luka dapat sembuh dengan sendirinya melalui perawatan secara mandiri di rumah. Perawatan luka secara mandiri dapat dilakukan jika luka tidak terlalu dalam, tidak berada di bagian tubuh yang berbahaya dan pendarahan berhenti dalam waktu yang singkat atau sekitar 10 menit saja. Menurut Endang Umirah (2015), proses penyembuhan luka dibagi menjadi 3 tahap, yakni :
6.1.2.1.                        Tahap Inflamasi atau Peradangan
Pada tahap awal proses penyembuhan luka, pembuluh darah akan menyempit untuk menghentikan pendarahan. Trombosit menggumpal di area luka. Setelah pembekuan selesai, pembuluh darah akan melebar untuk mengalirkan darah ke area luka. Inilah alasan mengapa luka terasa hangat, membengkak, dan kemerahan. Kemudian, sel darah putih membanjiri daerah tersebut untuk mencegah infeksi, dengan cara menghancurkan bakteri dan mikroba lainnya. Sel darah putih juga memproduksi senyawa kimia yang membantu memperbaiki jaringan yang rusak. Selanjutnya sel-sel kulit yang baru tumbuh sehingga menutup area luka.
6.1.2.2.                         Tahap Fibroplastik
Tahap ini merupakan tahap pembentukan jaringan parut setelah luka. Pada tahap penyembuhan luka ini, kolagen mulai tumbuh di dalam luka. Kolagen merupakan serat protein yang memberi kulit kekuatan. Keberadaan kolagen juga mendorong tepi luka untuk menyusut dan menutup. Selanjutnya, pembuluh darah kecil terbentuk di luka untuk memberi asupan darah pada kulit yang baru terbentuk.
6.1.2.3.                        Tahap Pematangan
Produksi kolagen terus bertambah sehingga jaringan yang rusak pulih perlahan-lahan. Proses pematangan bisa memakan waktu selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

6.2.   Tanah Liat
6.2.1.      Pengertian Tanah Liat
    Wikipedia (2013), lempung atau tanah liat adalah partikel mineral berkerangka dasar silika yang berdiameter kurang dari 4 mikrometer. Lempung terbentuk dari proses pelapukan batuan silika oleh asam karbonat dan sebagian dihasilkan dari aktivitas panas bumi.

6.2.2.      Jenis-Jenis Tanah Liat
6.2.2.1.                         Tanah Liat Primer
Wahyu, dkk. (2010), menyebutkan tanah liat primer (residu) adalah jenis tanah liat yang dihasilkan dari pelapukan batuan feldspatik oleh tenaga endogen yang tidak berpindah dari batuan induk (batuan asalnya), karena tanah liat tidak berpindah tempat sehingga sifatnya lebih murni dibandingkan dengan tanah liat sekunder. Selain tenaga air, tenaga uap panas yang keluar dari dalam bumi mempunyai peran dalam pembentukan tanah liat primer. Karena tidak terbawa arus air dan tidak tercampur dengan bahan organik seperti humus, ranting, atau daun busuk dan sebagainya, maka tanah liat berwarna putih atau putih kusam. yang termasuk tanah liat primer antara lain seperti kaolin, bentonite, feldspatik, kwarsa, dan dolomite yang biasanya terdapat di tempat-tempat yang lebih tinggi dari pada letak tanah sekunder. Pada umumnya batuan keras seperti basalt dan andesit akan memberikan warna merah alami pada lempung sedangkan granit akan memberikan warna putih alami pada lempung. Mineral kwarsa dan alumina dapat digolongkan sebagai jenis dari tanah liat primer karena merupakan hasil samping tanah liat kaolinit yang terbentuk dari pelapukan batuan feldspatik. Adapun ciri-ciri tanah liat primer yakni berwarna putih cerah sampai putih kusam, cenderung memiliki butiran-butiran yang kasar, tidak plastis, daya lebur tinggi, daya susut kecil dan bersifat tahan api.
6.2.2.2.                        Tanah Liat Sekunder
Wahyu, dkk. (2010), tanah liat sekunder atau tanah sedimen (endapan) adalah jenis tanah liat hasil pelapukan batuan feldspatik yang berpindah jauh dari batuan induknya karena adanya tenaga eksogen yang menyebabkan butiran-butiran tanah liat lepas dan mengendap pada daerah rendah seperti lembah sungai, tanah rawa, tanah marine, dan tanah danau. Akibat dari perpindahan tanah liat oleh air dan angin menyebabkan tanah liat bercampur dengan bahan-bahan organik maupun anorganik sehingga berubah sifat-sifat kimia maupun fisika tanah liat diantaranya seperi ukuran partikel-partikel yang lebih halus dan lebih plastis dari pada tanah liat primer.

6.3.   Salep
6.3.1.      Pengertian Salep
    Salep merupakan bentuk sediaan semi padat yang digunakan untuk pemakaian luar yang diaplikasikan pada kulit (kulit sehat, sakit atau terluka) atau membran mukosa (hidung, mata, rektal), Biasanya tapi tidak selalu mengandung bahan obat atau zat aktif. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen di dalam basis/pembawa. Salep dapat ditujukan untuk pengobatan lokal atau system

6.3.2.      Metode Pembuatan Salep
1.      Metode Pencampuran
      Dalam metode pencampuran, komponen dari salep dicampur dengan segala cara sampai sediaan yang rata tercapai.
2.      Metode Peleburan
      Pada metode peleburan, semua atau beberapa komponen dari salep dicampurkan dengan melebur bersama-sama dan didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental.
       Komponen-komponen yang tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada cairan yang sedang mengental setelah didinginkan. Bahan yang mudah menguap ditambahkan terakhir bila temperatur dari campuran telah cukup rendah tidak menyebabkan penguraian atau penguapan dari komponen.








7.      METODOLOGI PENELITIAN
7.1.   Rancangan Penelitian
     Menurut Arikunto (2013: 203) Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Rancangan penelitian merupakan suatu proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Rancangan penelitian diperlukan untuk mempermudah peneliti dalam melaksanakan penelitian.
     Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen. Metode ini digunakan untuk mengetahui “Bagaimana Pengaruh Salep Tanah Liat Kaolin (Caolinite Clay) dalam menghilangkan bekas luka”.
     Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang paling dapat diandalkan keilmiahannya, karena dilakukan dengan pengontrolan secara ketat terhadap variabel-variabel pengganggu di luar yang dieskperimenkan (Borg dan Gall, 1983:1). Selain menggunakan metode penelitian kuantitatif dalam pembahasan karya tulis ini,penliti juga menggunakan analisis deskriptif. Menurut Best dikutip oleh Sukardi (2013:157), analisis deskriptif merupakan suatu metode untuk menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya. Hal ini dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya (Sukardi, 2013:157).

     Adapun tahapan-tahapan dalam penelitian ini meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir.

7.1.1.      Tahap Persiapan
    Tahap persiapan dalam penelitian ini meliputi penentuan populasi dan sampel penelitian, penentuan lokasi dan waktu penelitian serta mempersiapkan peralatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan.
7.1.2.      Tahap Pelaksanaan
    Tahap pelaksanaan ini meliputi persiapan alat dan bahan, pembuatan salep dan pengolesan salep pada sampel.
7.1.3.      Tahap Akhir
    Tahap akhir dala penelitian ini yaitu uji coba dan analisis data serta menyimpulkannya dan saran.

7.2.   Populasi dan Sampel Penelitian
     Menurut Arikunto (2006: 131), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Populasi yang ada pada penelitian ini adalah Masyarakat MAN IC OKI. Adapun kriteria sampel yang dipilih adalah yang mempunyai bekas luka dan sampel yang akan diambil pada penelitian ini sebanyak 6 orang. Sampel ini didapat berdasarkan metode pengambilan sampel yaitu menggunakan metode purposive sampling. Sugiyono (2001:61) menyatakan bahwapurposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan  pertimbangan tertentu. Menurut Margono (2004:128), pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling  didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah  diketahui sebelumnya, dengan kata lain unit sampel yang  dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang  diterapkan berdasarkan tujuan penelitian (dikutip dari eurekapendidikan.com,2015:1).

7.3.   Lokasi dan Waktu Penelitian
     Pada proses pembuatan salep dari tanah liat kaolin akan dilakukan di Laboratorium MAN Insan Cendekia OKI, waktu penelitian ini dilaksankan mulai dari penyusunan proposal pada bulan september 2019 hingga terselesaikannya karya tulis ilmiah ini.

7.4.   Pengumpulan Data
     Teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk membuktikan hipotesis di atas ialah dengan metode observasi. Menurut Supardi (2006 : 88), metode observasi merupakan metode mengumpulkan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. Tahap-tahap yang dilakukan dalam pengumpulan data sebagai berikut :

7.4.1.      Persiapan Bahan dan Alat
      Bahan yang harus disiapkan ialah tanah liat kaolin murni seberat 2 kg yang dibeli dari online shop dan dikondisikan dengan cara ditumbuk-tumbuk menjadi bubuk yang bertujuan dalam pembuatan salep, minyak wijen 500 gram yang digunakan dalam pembuatan salep dan lilin lebah (bee wax) yang digunakan juga dalam pembuatan salep.
      Alat yang harus disiapkan ialah panci stainless yang berguna sebagai wadah dalam pembuatan salep, kompor yang berguna untuk memanaskan campuran bahan dan botol yang digunakan sebagai wadah untuk menyimpan salep yang sudah jadi.

7.4.2.      Tahapan Penelitian  
1.       Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan
2.      Panaskan minyak wijen hitam dengan lilin lebah pada panci stainless
3.      Tambah bubuk tanah liat kedalam panci terus aduk dalam api yang kecil sehingga terintegrasi dengan baik
4.      Biarkan dingin dan tuang dalam botol terus tutup dengan rapat
5.      Simpan di ruangan yang bisa membuat salep tahan lama
6.      Lalu oleskan pada sampel selama beberapa hari
7.      Pengecekan hasil pada sampel

Tabel 1. Sampel pengecekan hasil
Waktu
Perlakuan I
Perlakuan II
Perlakuan III

I.A
I.B
II.A
II.B
III.A
III.B
Hari ke-1






Hari ke-2






Hari ke-3






Hari ke-4






Hari ke-5






Hari ke-6






Hari ke-7






*Perlakuan I : Sampel yang tidak diolesi salep
*Perlakuan II : Sampel yang diolesi salep 1 kali sehari
*Perlakuan III : Sampel yang diolesi salep 2 kali sehari

Skala warna bekas luka disesuaikan dan diamati berdasarkan perubahan warna pada kulit dan disesuaikan perubahan warnanya pada skala warna kulit seperti pada tabel warna.


Gambar 1
Skala Warna Kulit Felix von Luschan
(Sumber: kaaffah.xyz )

Gambar 2
Skala Penggolongan Warna Kulit Fitzpatrick
(Sumber:kaaffah.xyz )

Setelah data dimasukkan ke tabel rekapitulasi data, data tersebut kemudian dianalisa dan diambil kesimpulan dari tabel rata-rata. Menurut Giancoli (2001:454), bahwa perubahan suatu suhu adalah suhu akhir dikurangi dengan suhu awal. Hal ini dapat diterapkan dalam perhitungan perubahan ukuran Callus.
Tabel 2. Tabel rataan perubahan warna kulit pada bekas luka

Perlakuan I
Perlakuan II
Perlakuan III

I.A
I.B
II.A
II.B
III.A
III.B
Perubahan warna kulit
.I.A
Rata-Rata
.I.A +
Dibagi 2
+  Dibagi 2
+
Dibagi 2

Setiap perubahan warna bekas luka akan dihitung rataan dari setiap perlakuan. Rata-rata dari setiap dosis menunjukkan efektivitas dari salep tanah liat kaolin sebagai penghilang bekas luka.
7.4.3.      Pengujian
7.4.3.1.                        Perubahan Warna Kulit
Perubahan warna dilihat dari perubahan warna bekas luka yang diolesi pada sampel perlakuan I, perlakuan II dan perlakuan III, yang masing masing akan dilihat perubahan pada warna bekas luka.       

8.      JADWAL PENELITIAN
Tabel 2. Rencana Penelitian
Progres Penelitian
Agustus
September
Oktober
November
Pengajuan Judul
22



Penerbitan Penerimaan Judul dan Guru Pembimbing

4


Penyelesaian Proposal

4-27


Pengumpulan Proposal

28


Seminar Proposal

30


Revisi Proposal


1-6

Pelaksanaan Penelitian


7 September-28 November
Penyelesaian Laporan Hasil Penelitian



2
Seminar Hasil Penelitian



8-9
Revisi Hasil Seminar



8-14
Izin penjilidan KTI



14
Pengumpulan Hard dan Soft Copy KTI



16









9.      DAFTAR PUSTAKA
Andrie, Luliana, Nicodemus. 2014. Uji Efek Penyembuhan Luka Sayat             Ekstrak            Ikan Toman Secara Oral Pada Tikus Putih Jantan Wistar. Fakultas    Kedokteran.    Universitas Tanjung Pura. Pontianak

Bakri, R, Utari, T., and Puspita, I.S. 2008. Kaolin Sebagai Sumber SiO2 untuk             Pembuatan Katalis Ni/SiO2 : Karakterisasi dan Uji Katalitik pada    Hidrogenasi    Benzene Menjadi Sikloheksana. MAKARA SAINS. 412. PP     37-42.

Bobak, K. Jensen. 2005. Perawatan Maternitas. Jakarta, EGC.

Dudley HAF, Eckersley JRT, Paterson-Brown S. 2000. Pedoman Tindakan     Medik dan       Bedah. Jakarta, EGC.

Dermawan. 2017. Sintesis dan Karakteristik Zeolit NaA dari Kaolin dan Metakaolin     sebagai Adsorben Logam Tembaga, Besi dan Timbal pada Limbah Logam             Laboratorium. Fakultas Saintek. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.    Malang.

Endang. 2015. Pengertian-dan-Jenis-jenis-Luka-Menurut-Para-Ahli-      .https://www.kompasiana.com/endangumirah/54f95033a33311ed068b4c9  b/pengertian-luka di akses pada tanggal 20 September jam 20.31.

Endra. 2014. Makalah-Farmasetika-Dasar-Sediaan-Salep.       http://ndrasendana.blogspot.com/2014/01/makalah-farmasetika-dasar-         sediaan-           salep.html . Di akses pada tanggal 20 September jam 19.53.
     
Sari. 2016. Tanah liat : Pengertian, proses, ciri-ciri dan jenisnya.             https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah/tanah-liat. Diakses pada tanggal 19 September jam     20.15.

A’malia. 2017.  PENGARUH GETAH PEPAYA (Carica papaya)  DALAM MENGATASI   PENYAKIT CallusPESERTA DIDIK MAN IC OKI KELAS XII IPA 2. KTI Wajib. MAN IC       OKI. Sumatera Selatan.


... Mungkin hanya itu yang bisa saya paparkan.. 
      Kaplan NE, Hentz VR. 1992. Emergency Management of Skin and Soft            Tissue Wounds, An Illustrated Guide. USA, Boston, Little Brown.






Komentar

Posting Komentar